Anak Membantah Salah Siapa? Sisi Lain Parenting yang Salah Kaprah

Kasus demi kasus anak yang membantah guru semakin banyak meramaikan media. Kasus yang berujung pada kekerasan anak pun seperti tidak mau ketinggalan. Ironi yang membuat kita mengerutkan kening dan berpikir, “apa yang salah?”.

Mirisnya, banyak dari pelaku kekerasan adalah mereka yang mengenyam pendidikan tinggi. Bahkan beberapa diketahui berasal dari keluarga terpandang. Nyaris tidak mungkin mereka tidak tahu apa itu parenting.

Kenyataan memang berkata lain. Orang tua yang berpendidikan tinggi kerap melimpahkan tugas mendidik kepada pihak kedua, ketiga, dan seterusnya.

Jika bukan dititipkan ke kakek-neneknya, maka sekolah berasrama. Sebenarnya tidak ada yang salah, bila orang tua memahami metode pendidikan yang diberikan kepada anak. Berkaca pada hal tersebut, maka dimulailah era parenting yang salah kaprah. Parenting yang dilakukan oleh selain orang tuanya.

Padahal, jika merujuk pada kata parenting, maka orang tualah yang paling berperan dalam membentuk karakter anak. Pembentukan karakter yang dimulai jauh sebelum mereka duduk di bangku sekolah.

Bukan dari materi ini dan itu. Melainkan dimulai dari mencukupi kebutuhan anak akan kasih dan sayang. Memenuhi diri sang anak akan perasaan dicintai, dibutuhkan, dan dilindungi.

Anak Membutuhkan Kasih Sayang

Tunjukkan Cinta dan Kasih Sayang Kepada Anak (cdn-media-1.lifehack.org)

Tidak jarang, anak pembantah terlahir dari orang tua yang juga mengalami kurang kasih sayang. Masa kecil yang kurang bahagia tanpa disadari menjadi pondasi terbentuknya metode parenting ala pribadi.

Ibarat ‘lingkaran setan’, orang tua tanpa sengaja mengulang kesalahan yang sama. Maka, jika tidak diputus dengan segera, lahirlah generasi demi generasi yang tidak peka, keras, dan suka membantah.

Samakah kritis dengan pembantah?

Beda. Keduanya adalah hal yang berlainan.

Anak yang kritis terlahir dari sikap yang mampu menganalisis masalah atau hal yang dihadapinya. Di sisi lain, anak pembantah hanya mencari alasan pembenaran atas tindakannya. Seringkali tidak disertai oleh akal sehat.

Pembantah terlahir dari kondisi dan contoh yang dilihat dari sekitarnya. Bila bukan dari orang tua, maka lihatlah kemana dia bergaul.

Bisa saja teman sepermainan, atau lingkungan keluarga besar malah menjadi pemberi contoh buruk kepada anak. Maka, tugas orang tua untuk menjadi filter atas tindakan dan perilaku anak.

Jangan segan untuk menegur. Meluruskan dan memberi hukuman adalah bentuk ketegasan yang akan meluruskan sikap anak yang bengkok.

Semakin muda usianya, maka akan lebih mudah meluruskannya. Bila menunda memberi ketegasan, Anda akan menanggung risikonya. Jangan salahkan orang lain, bila kelak dia tumbuh menjadi pribadi yang sulit dikendalikan.

Bukan cuma itu. Anda pun harus sanggup bersikap tegas terhadap lingkungan yang buruk bagi tumbuh kembangnya. Namun, secara bersamaan berikan pemahaman kepada anak dengan cara yang dipahaminya.

Jangan sampai dia merasa Anda merampas haknya untuk bersosialisasi. Ketegasan tersebut berlaku tanpa pandang bulu. Baik ke teman hingga ke keluarga besar.

Sejatinya, Anda tidak pernah terlambat untuk mengembalikan anak ke fitrahnya. Namun, kunci parenting ada pada diri Anda.

Anak sesungguhnya hanya peniru ulung. Mereka meniru dan memodifikasinya hingga pada saatnya menemukan jati dirinya.

Maka, perubahan harus dimulai dari diri Anda selaku orang tua. Memang, ini adalah hal yang sangat sulit. Menjadi orang tua menuntut Anda untuk menampilkan sisi terbaik diri, di saat lapang maupun lelah.

Tunjukkan rasa sayang dan cinta Anda dalam setiap segi kehidupannya. Kuatkan pondasi dan pendidikan agama sehingga mampu membantunya menemukan kepribadiannya.

Ketahuilah, anak pembantah adalah mereka yang haus akan perhatian. Sayangnya, mereka menunjukkan eksistensi diri dengan cara yang kurang tepat. Berikan mereka perhatian yang cukup, maka lihatlah anak Anda tumbuh menjadi pribadi yang baik.

Comments