Benarkah Ibu Hamil Tidak Boleh Menyusui?

Semua ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk buah hatinya. Kesehatan bayi menjadi tolok ukur utama kebahagiaan ibu. Namun, bagaimana jika saat masih menyusui ibu hamil lagi?

Banyak yang berpendapat bahwa ketika ibu hamil, maka air susunya telah tidak layak untuk dikonsumsi oleh anaknya. Biasanya orang berasumsi bahwa ASI ibu yang sedang hamil akan berdampak buruk bagi kesehatan anak. Benarkah demikian?

Memang benar, ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan jika ibu yang hamil masih ingin menyusui. Bila berpotensi membahayakan, maka tubuh ibu akan memberikan tanda-tanda yang dapat menjadi acuan bisa tidaknya proses menyusui dilanjutkan.

Ibu Mudah Lelah

Kehamilan akan membuat hormon menjadi fluktuatif. Perubahan hormon serta fisik akan berpengaruh terhadap kondisi ibu.

Ibu hamil memang cepat merasa lelah dan mengantuk. Namun, lain halnya dengan ibu hamil yang juga menyusui. Umumnya bisa terjadi kelelahan yang mengganggu aktivitas rutin ibu. Untuk mengatasinya, ibu bisa menambah asupan gizi dua kali lipat lebih banyak dibandingkan saat masa kehamilan sebelumnya.

Kenapa? Karena asupan gizi dalam tubuh ibu bukan hanya dibagi kepada si janin, tapi juga untuk kakaknya. Bila sering merasa lelah yang berlebihan, maka ibu boleh mempertimbangkan untuk segera menyapih si kecil.

Beristirahat akan Membantu Ibu Hamil Menjaga Stamina

Ibu Hamil yang Menyusui Butuh Lebih Banyak Istirahat (images.contentful.com)

Ibu Sering Jatuh Sakit

Tubuh yang lemah akan berpengaruh ke sistem imunitas yang menurun. Hasilnya, ibu menjadi sasaran empuk infeksi penyakit. Tentu hal ini bukanlah yang ibu inginkan.

Sakit akan memengaruhi janin. Belum lagi kemungkinan penularan kepada kakaknya saat dia sedang menyusu. Untuk itu, sangat penting bagi ibu hamil menjaga kesehatannya. Bila memang menyusui berakibat sakit yang terjadi berulang kali, tidak ada salahnya menghentikan pemberian ASI.

Berat Badan Janin Tidak Bertambah Secara Optimal

Salah satu pertanda menyusui membahayakan kandungan adalah bobot janin yang lambat perkembangannya. Bobot yang berada di bawah ideal dapat mengancam keselamatan janin.

Apabila ibu telah berupaya menambah bobot janin namun tidak berhasil secara optimal, maka menyapih menjadi solusi. Perlu ibu ketahui, janin yang tidak tumbuh dan berkembang dengan baik menjadi tanda bahwa kebutuhan gizinya kurang tercukupi.

Sering Terjadi Kontraksi

Kontraksi dini yang kuat dan dialami berulang-ulang, bisa mengakibatkan terjadinya proses persalinan prematur bahkan keguguran. Memang, kontraksi biasa terjadi selama kehamilan. Namun, ibu hamil yang juga menyusui, perlu bersikap ekstra sensitif.

Bila kontraksi berlangsung terlalu sering. Perut terasa sangat kencang disertai nyeri pada bagian panggul. Maka, sebaiknya ibu menghentikan sementara kegiatan menyusui.

Beristirahat yang cukup dan mengurangi aktivitas yang melelahkan, akan sangat membantu menjaga kebugaran ibu hamil. Jika mereka yang hamil saja butuh lebih banyak istirahat, apalagi ibu yang membarenginya dengan aktivitas menyusui? Jelas, kebutuhan makanan bergizi, tidur, atau mungkin sekadar membaringkan badan, diperlukan dalam porsi yang lebih banyak.

Jangan lupa, ibu harus mulai memberikan pengertian bagi sang kakak. Akan sangat baik bila kakak dikenalkan dengan calon adiknya. Tujuannya adalah supaya kakak bisa mulai memahami bahwa kelak dia harus berhenti menyusui. Meskipun, ASI yang diperolehnya saat ibu sedang hamil kualitasnya tetap baik, hanya kuantitasnya jelas berkurang.

Ibu tidak perlu cemas. Calon adik yang akan hadir adalah anugerah yang akan disertai dengan pemahaman kakak. Meskipun, sangat wajar jika awalnya kakak akan menolak dan merasa haknya menyusui direbut oleh adiknya.

Berbicara mengenai keputusan untuk berhenti menyusui sang buah hati tentu tidak bisa berlandaskan asumsi atau pendapat awam. Terlebih, menyusui memang hak anak yang semestinya didapat hingga dia berusia 2 tahun. Maka, akan sangat bijak bagi ibu hamil yang ingin tetap menyusui anaknya untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan serta dokter anak.

Comments